Awalnya sebuah impian. Atau kerinduan akan sebuah suasana: sebuah rumah yang terletak di antara rerimbunan pepohonan yang tenang, damai, sejuk dan indah; sebuah rumah yang di depannya berdiri sebuah lapangan dengan anak-anak kecil yang sedang bermain bersama; sebuah rumah yang di depannya terdapat sebuah tempat ibadah mushola dan suara amin yang menyeruak di setiap sholat dan doa; sebuah rumah yang di depannya bisa kuletakkan kursi besar dari kayu jati tempat aku membaca, minum teh dan menikmati suasana; sebuah rumah yang kontur tanahnya terasiring atau berbukit; sebuah rumah dimana hubungan silaturahmi dengan tetangga terjalin erat dan berbuah persaudaraan...
Juga, sebuah rumah yang kala pagi hari menjadi alam pedesaaan dengan sinar matahari yang cerah, embun yang hinggap di rerumputan, dan kokok ayam yang membangunkan kita dari mimpi malam; sebuah rumah yang kala siang hari selalu terdengar canda, tawa dan perbincangan para ibu-ibu berbicara dengan tukang sayur; sebuah rumah yang kala malam hari aku bisa mendengar suara jangkerik dan semilir angin serta sayup-sayup orang mengaji atau para orang tua yang membimbing anaknya untuk belajar; sebuah rumah yang setiap Subuh terdengar panggilan adzan bertalu-talu menembus setiap sudut rumah dan jantung hati setiap manusia yang tinggal di sekitarnya...
Impian dan kerinduan itu akhirnya menggumpal menjadi semacam munajat dan doa. Aku lantumkan di setiap kesendirian maupun di kala keramaian mengelilingi diriku. Padahal, Allah telah memberikan sebuah rumah yang seperti aku idam-idamkan, berada di sekitar pedesaan di daerah Bogor dengan pemandangan gunung dan alam yang masih hijau, serta sebuah aliran Sungai Ciliwung yang deras mengalir. Namun, aku adalah "Makhluk Pejalan" dengan berpegang pada tali Allah dengan segala kemampuan berserah diri dan keharusan menyempurnakan ikhtiar. Aku selalu ingin menuju ke arah dan tujuan yang lebih baik. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Tentu saja, dengan segala yang Allah berikan kepada kita dengan segenap rasa syukur dan sabar serta menerima ketentuan Allah apa adanya...
"Ya Allah, aku memang selalu bermimpi. Ya Allah, aku memang selalu rindu keindahan. Sebuah rumah. Ya, sebuah rumah yang dikelilingi dengan keindahan, kedamaian, kesejukan, kenyamanan, ketenangan dan kebahagiaan. Ya Allah, impian dan kerinduanku tersebut tidak ada maksud dari hamba-Mu untuk memperkaya diri, menumpuk harta, ataupun bersikap riya. Hamba ingin diberikan kemudahan bilamana hamba ingin ke tempat-tempat yang mudah dijangkau. Hamba ingin selalu menikmati keagungan dan ciptaan-Mu dimanapun berada. Apalagi sekarang ini, istri hamba sedang mengandung, sehingga mudah menjangkau dokter, rumah sakit dan hal-hal yang berkaitan dengan kemudahan dan kelancaran terhadap istri hamba dan bayi yang dikandungnya. Aku berserah diri kepada Engkau ya Allah. Engkau lah yang Maha Berkehendak..."
Aku teringat kata-kata Ustadz Yusuf Mansur dalam sebuah nasehatnya yang selalu teringiang-ngiang: "Kalau kita punya keinginan, itu bukan lantaran kita memiliki uang atau tidak. Tapi apakah Allah Berkehendak atau tidak! Kalau ingin Allah Berkehendak terhadap apa yang kita inginkan, maka dekatilah Allah!" Aku pun teringat firman Allah dalam QS At Takwir [81]: 29, berbunyi: " Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan Semesta Alam." Juga, firman Allah dalam QS Al An'am [6]: 59, berbunyi: "Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sendiri, dan Allah mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Allah mengetahui dan mengijinkannya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata."
Ya, dekat dengan Allah. Padahal Allah itu sangat dekat dengan kita. Dalam QS Al Baqarah [2]: 186, tertulis: "Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku memperkenankan permohonan seseorang bila ia memohon kepada-Ku. Karena itu hendaklah ia menaati segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, semoga ia selalu dalam kebenaran. " Nah, bila kita sudah dekat dengan Allah, tidak ada yang mustahil terjadi. Seperti tersurat dalam Surat Yasin [36]: 82 yang berbunyi: "Innama amruhu iza arada syai'an ayyaqula lahu kun fayakun (Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: 'Jadilah!' maka terjadilah)." Nah, apakah yang membuat hati dan langkah kita ragu, bila Allah, yang telah menciptakan bumi dan semesta, bahkan yang menciptakan kita, telah menyatakan firman-Nya tersebut? Kita tidak bisa meragukan, dan mengingkari, seperti kata-kata yang kita ucapkan setelah bercinta dengan Allah melalui lantuman ayat-ayat dalam Al Quran: "Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya!". Maha Benar!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)








No comments:
Post a Comment