Orang yang melekat Penyakit Hati (sombong dan angkuh terhadap Allah), seperti dikatakan ulama besar Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Rahimahullah, yaitu: "Ketika ditimpa musibah maka pertama kali yang ada dalam hatinya, bahwa yang bisa menyelamatkan adalah dirinya sendiri. Bila tidak dapat menyelamatkan dirinya, maka dia minta tolong kepada orang lain yang dianggap mampu. Bila dari semuanya itu tidak dapat menyelamatkan dirinya, baru dia kembali kepada Tuhannya dengan doa, tadharru' dan pujian kepada-Nya."
Lanjutnya: "Selama dia menemukan keselamatan dalam dirinya, dia tidak akan mencari pertolongan dari sesama makhluk. Dan selama dia menemukan keselamatan dari sesama makhluk, maka dia tidak akan kembali menuju kepada Tuhannya. Namun bila tidak menemukan pertolongan dari dalam dirinya dari sesama makhluk, maka dia akan terus menengadahkan kedua tangannya untuk memohon dan berdoa kepada Tuhannya, disertai rasa cemas dan penuh pengharapan."
"Akhirnya Allah SWT memberinya kelemahan dan tetap tidak mengabulkan permintaan orang tersebut, hingga akhirnya habislah semua jalan. Pada saat itulah Qadar berlaku. Keserakahan tidak hanya hingga dalam diri orang tersebut pada hal-hal kemewahan, kesenangan dan kesombongan diri saja, tapi orang itu juga telah merengkuh keserakahan merasa mampu mengatasi persoalan sendiri dan keserakahan merasa memiliki kemampuan diri sendiri yang besar. Inilah ciri orang berpenyakit hati," tandas Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani.
Jadi: "Tidak ada daya upaya manusia, tanpa kehendak dan pertolongan dari Allah SWT. Tidak ada yang memberikan ketenangan dan menggerakkan pikiran, hati dan tindakan manusia, kecuali Allah SWT. Tiada kebaikan atau kejahatan, bahaya atau manfaat, pemberian atau tiadanya pemberian, terbuka atau terkunci, hidup atau mati, kemuliaan atau kehinaan, kecuali hanya di dalam kekuasaan dan kehendak Allah SWT."
Monday, October 27, 2008
Saturday, October 25, 2008
"Mengenal, Mempercayai, Meyakini, Mencintai dan Mengimani. Dan, Akhirnya Manunggaling Dengan Gusti Allah..."
(1) Allah Meliputi Segala Sesuatu
QS An Nisaa [4]: 126: "Kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu."
QS Fussilat [14]: 54: Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu."
(2) Kemanapun Kita Menghadap Disitulah Wajah Allah
QS Al Baqarah [2]: 115: Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui."
(3) Dimanapun Kita Selalu Bersama Allah
QS Al Hadid [57]: 4: "Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya; dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
QS An Nisaa [4]: 1: "....Sesungguhnya Allah itu selalu menjaga dan mengawasi kamu."
(4) Allah Dekat Manusia
QS Al Baqarah [2]: 186: "Dan Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
(5) Allah Meliputi Manusia
QS Al Isra [17]: 60: "Dan (ingatlah) ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia." Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakuti-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka."
(6) Allah Lebih Dekat dari Urat Leher Kita
QS Qaf [50]: 16: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
QS An Nisaa [4]: 126: "Kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu."
QS Fussilat [14]: 54: Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu."
(2) Kemanapun Kita Menghadap Disitulah Wajah Allah
QS Al Baqarah [2]: 115: Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap, disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui."
(3) Dimanapun Kita Selalu Bersama Allah
QS Al Hadid [57]: 4: "Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya; dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu dimana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
QS An Nisaa [4]: 1: "....Sesungguhnya Allah itu selalu menjaga dan mengawasi kamu."
(4) Allah Dekat Manusia
QS Al Baqarah [2]: 186: "Dan Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
(5) Allah Meliputi Manusia
QS Al Isra [17]: 60: "Dan (ingatlah) ketika Kami wahyukan kepadamu: "Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia." Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakuti-nakuti mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka."
(6) Allah Lebih Dekat dari Urat Leher Kita
QS Qaf [50]: 16: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
"Jalan Terbaik Perjalanan Hidup Manusia adalah Berserah Diri kepada Allah SWT"
Ulama besar Syekh Abu al-Abbas al-Mursi Rahimahullah berkata: "Seandainya dirimu adalah milikmu, berbuatkan sesukamu. Namun kamu bukan milikmu sehingga kamu tidak bisa berbuat sesukamu. Jika dirimu adalah milik pencipta-Nya, biarkanlah Dia (Allah) berbuat sesuai dengan kehendak-Nya."
Selanjutnya, dikatakan: "Kelapangan terdapat dalam sikap pasrah kepada Allah dan tidak ikut mengatur bersama-Nya. Itulah hakikat penghambaan (berserah diri)."
"Siapa yang bersandar kepada Allah, berarti ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus." (QS Ali Imran [3]: 101)
"Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih. Mereka (manusia) tidak punya pilihan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi atas apa yang mereka sekutukan." (QS Al Qashash [28]: 68)
"Atau apakah manusia akan mendapatkan semua yang diinginkannya? (Tidak) hanya milik Allah kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat." (QS Al Najm [53]: 24-25)
"Nikmat apa saja yang ada padamu, berasal dari Allah." (QS Al Nahl [16]: 53)
"Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS Al A'raf [7]: 156)
"Allah adalah Pencipta segala sesuatu." (QS Ar Ra'd [13]: 16)
"Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan." (QS Ash Shaffat [37]: 95)
"Allah tiada Tuhan selain-Nya Yang Maha Hidup dan Maha Tegak (terus menerus mengurus seluruh makhluk-Nya)." (QS Al Baqarah [2]: 255)
"Dia lebih mengetahui tentang diri kalian ketika Dia menjadikan kalian dari tanah dan ketika kalian masih berbentuk janin." (QS Al Najm [53]: 32)
"Seluruh keputusan hanya milik Allah. Dia memerintahkan agar kalian tidak mengabdi kecuali kepada-Nya." (QS Yusuf [12]: 40)
"Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan." (QS Al Baqarah [2]: 185)
"Allah adalah Pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya." (QS Al Baqarah [2]: 257)
"Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya." (QS At Thalaq [65]: 3)
Selanjutnya, dikatakan: "Kelapangan terdapat dalam sikap pasrah kepada Allah dan tidak ikut mengatur bersama-Nya. Itulah hakikat penghambaan (berserah diri)."
"Siapa yang bersandar kepada Allah, berarti ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus." (QS Ali Imran [3]: 101)
"Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih. Mereka (manusia) tidak punya pilihan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi atas apa yang mereka sekutukan." (QS Al Qashash [28]: 68)
"Atau apakah manusia akan mendapatkan semua yang diinginkannya? (Tidak) hanya milik Allah kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat." (QS Al Najm [53]: 24-25)
"Nikmat apa saja yang ada padamu, berasal dari Allah." (QS Al Nahl [16]: 53)
"Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (QS Al A'raf [7]: 156)
"Allah adalah Pencipta segala sesuatu." (QS Ar Ra'd [13]: 16)
"Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan." (QS Ash Shaffat [37]: 95)
"Allah tiada Tuhan selain-Nya Yang Maha Hidup dan Maha Tegak (terus menerus mengurus seluruh makhluk-Nya)." (QS Al Baqarah [2]: 255)
"Dia lebih mengetahui tentang diri kalian ketika Dia menjadikan kalian dari tanah dan ketika kalian masih berbentuk janin." (QS Al Najm [53]: 32)
"Seluruh keputusan hanya milik Allah. Dia memerintahkan agar kalian tidak mengabdi kecuali kepada-Nya." (QS Yusuf [12]: 40)
"Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan." (QS Al Baqarah [2]: 185)
"Allah adalah Pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya." (QS Al Baqarah [2]: 257)
"Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya." (QS At Thalaq [65]: 3)
Thursday, October 23, 2008
Episode Ijin & Kehendak Allah (1): "Allah Memberikan Amanah Sebuah Rumah Baru"
Awalnya sebuah impian. Atau kerinduan akan sebuah suasana: sebuah rumah yang terletak di antara rerimbunan pepohonan yang tenang, damai, sejuk dan indah; sebuah rumah yang di depannya berdiri sebuah lapangan dengan anak-anak kecil yang sedang bermain bersama; sebuah rumah yang di depannya terdapat sebuah tempat ibadah mushola dan suara amin yang menyeruak di setiap sholat dan doa; sebuah rumah yang di depannya bisa kuletakkan kursi besar dari kayu jati tempat aku membaca, minum teh dan menikmati suasana; sebuah rumah yang kontur tanahnya terasiring atau berbukit; sebuah rumah dimana hubungan silaturahmi dengan tetangga terjalin erat dan berbuah persaudaraan...
Juga, sebuah rumah yang kala pagi hari menjadi alam pedesaaan dengan sinar matahari yang cerah, embun yang hinggap di rerumputan, dan kokok ayam yang membangunkan kita dari mimpi malam; sebuah rumah yang kala siang hari selalu terdengar canda, tawa dan perbincangan para ibu-ibu berbicara dengan tukang sayur; sebuah rumah yang kala malam hari aku bisa mendengar suara jangkerik dan semilir angin serta sayup-sayup orang mengaji atau para orang tua yang membimbing anaknya untuk belajar; sebuah rumah yang setiap Subuh terdengar panggilan adzan bertalu-talu menembus setiap sudut rumah dan jantung hati setiap manusia yang tinggal di sekitarnya...
Impian dan kerinduan itu akhirnya menggumpal menjadi semacam munajat dan doa. Aku lantumkan di setiap kesendirian maupun di kala keramaian mengelilingi diriku. Padahal, Allah telah memberikan sebuah rumah yang seperti aku idam-idamkan, berada di sekitar pedesaan di daerah Bogor dengan pemandangan gunung dan alam yang masih hijau, serta sebuah aliran Sungai Ciliwung yang deras mengalir. Namun, aku adalah "Makhluk Pejalan" dengan berpegang pada tali Allah dengan segala kemampuan berserah diri dan keharusan menyempurnakan ikhtiar. Aku selalu ingin menuju ke arah dan tujuan yang lebih baik. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Tentu saja, dengan segala yang Allah berikan kepada kita dengan segenap rasa syukur dan sabar serta menerima ketentuan Allah apa adanya...
"Ya Allah, aku memang selalu bermimpi. Ya Allah, aku memang selalu rindu keindahan. Sebuah rumah. Ya, sebuah rumah yang dikelilingi dengan keindahan, kedamaian, kesejukan, kenyamanan, ketenangan dan kebahagiaan. Ya Allah, impian dan kerinduanku tersebut tidak ada maksud dari hamba-Mu untuk memperkaya diri, menumpuk harta, ataupun bersikap riya. Hamba ingin diberikan kemudahan bilamana hamba ingin ke tempat-tempat yang mudah dijangkau. Hamba ingin selalu menikmati keagungan dan ciptaan-Mu dimanapun berada. Apalagi sekarang ini, istri hamba sedang mengandung, sehingga mudah menjangkau dokter, rumah sakit dan hal-hal yang berkaitan dengan kemudahan dan kelancaran terhadap istri hamba dan bayi yang dikandungnya. Aku berserah diri kepada Engkau ya Allah. Engkau lah yang Maha Berkehendak..."
Aku teringat kata-kata Ustadz Yusuf Mansur dalam sebuah nasehatnya yang selalu teringiang-ngiang: "Kalau kita punya keinginan, itu bukan lantaran kita memiliki uang atau tidak. Tapi apakah Allah Berkehendak atau tidak! Kalau ingin Allah Berkehendak terhadap apa yang kita inginkan, maka dekatilah Allah!" Aku pun teringat firman Allah dalam QS At Takwir [81]: 29, berbunyi: " Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan Semesta Alam." Juga, firman Allah dalam QS Al An'am [6]: 59, berbunyi: "Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sendiri, dan Allah mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Allah mengetahui dan mengijinkannya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata."
Ya, dekat dengan Allah. Padahal Allah itu sangat dekat dengan kita. Dalam QS Al Baqarah [2]: 186, tertulis: "Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku memperkenankan permohonan seseorang bila ia memohon kepada-Ku. Karena itu hendaklah ia menaati segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, semoga ia selalu dalam kebenaran. " Nah, bila kita sudah dekat dengan Allah, tidak ada yang mustahil terjadi. Seperti tersurat dalam Surat Yasin [36]: 82 yang berbunyi: "Innama amruhu iza arada syai'an ayyaqula lahu kun fayakun (Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: 'Jadilah!' maka terjadilah)." Nah, apakah yang membuat hati dan langkah kita ragu, bila Allah, yang telah menciptakan bumi dan semesta, bahkan yang menciptakan kita, telah menyatakan firman-Nya tersebut? Kita tidak bisa meragukan, dan mengingkari, seperti kata-kata yang kita ucapkan setelah bercinta dengan Allah melalui lantuman ayat-ayat dalam Al Quran: "Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya!". Maha Benar!
Juga, sebuah rumah yang kala pagi hari menjadi alam pedesaaan dengan sinar matahari yang cerah, embun yang hinggap di rerumputan, dan kokok ayam yang membangunkan kita dari mimpi malam; sebuah rumah yang kala siang hari selalu terdengar canda, tawa dan perbincangan para ibu-ibu berbicara dengan tukang sayur; sebuah rumah yang kala malam hari aku bisa mendengar suara jangkerik dan semilir angin serta sayup-sayup orang mengaji atau para orang tua yang membimbing anaknya untuk belajar; sebuah rumah yang setiap Subuh terdengar panggilan adzan bertalu-talu menembus setiap sudut rumah dan jantung hati setiap manusia yang tinggal di sekitarnya...
Impian dan kerinduan itu akhirnya menggumpal menjadi semacam munajat dan doa. Aku lantumkan di setiap kesendirian maupun di kala keramaian mengelilingi diriku. Padahal, Allah telah memberikan sebuah rumah yang seperti aku idam-idamkan, berada di sekitar pedesaan di daerah Bogor dengan pemandangan gunung dan alam yang masih hijau, serta sebuah aliran Sungai Ciliwung yang deras mengalir. Namun, aku adalah "Makhluk Pejalan" dengan berpegang pada tali Allah dengan segala kemampuan berserah diri dan keharusan menyempurnakan ikhtiar. Aku selalu ingin menuju ke arah dan tujuan yang lebih baik. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Tentu saja, dengan segala yang Allah berikan kepada kita dengan segenap rasa syukur dan sabar serta menerima ketentuan Allah apa adanya...
"Ya Allah, aku memang selalu bermimpi. Ya Allah, aku memang selalu rindu keindahan. Sebuah rumah. Ya, sebuah rumah yang dikelilingi dengan keindahan, kedamaian, kesejukan, kenyamanan, ketenangan dan kebahagiaan. Ya Allah, impian dan kerinduanku tersebut tidak ada maksud dari hamba-Mu untuk memperkaya diri, menumpuk harta, ataupun bersikap riya. Hamba ingin diberikan kemudahan bilamana hamba ingin ke tempat-tempat yang mudah dijangkau. Hamba ingin selalu menikmati keagungan dan ciptaan-Mu dimanapun berada. Apalagi sekarang ini, istri hamba sedang mengandung, sehingga mudah menjangkau dokter, rumah sakit dan hal-hal yang berkaitan dengan kemudahan dan kelancaran terhadap istri hamba dan bayi yang dikandungnya. Aku berserah diri kepada Engkau ya Allah. Engkau lah yang Maha Berkehendak..."
Aku teringat kata-kata Ustadz Yusuf Mansur dalam sebuah nasehatnya yang selalu teringiang-ngiang: "Kalau kita punya keinginan, itu bukan lantaran kita memiliki uang atau tidak. Tapi apakah Allah Berkehendak atau tidak! Kalau ingin Allah Berkehendak terhadap apa yang kita inginkan, maka dekatilah Allah!" Aku pun teringat firman Allah dalam QS At Takwir [81]: 29, berbunyi: " Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan Semesta Alam." Juga, firman Allah dalam QS Al An'am [6]: 59, berbunyi: "Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Allah sendiri, dan Allah mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Allah mengetahui dan mengijinkannya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata."
Ya, dekat dengan Allah. Padahal Allah itu sangat dekat dengan kita. Dalam QS Al Baqarah [2]: 186, tertulis: "Dan apabila hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku memperkenankan permohonan seseorang bila ia memohon kepada-Ku. Karena itu hendaklah ia menaati segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, semoga ia selalu dalam kebenaran. " Nah, bila kita sudah dekat dengan Allah, tidak ada yang mustahil terjadi. Seperti tersurat dalam Surat Yasin [36]: 82 yang berbunyi: "Innama amruhu iza arada syai'an ayyaqula lahu kun fayakun (Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: 'Jadilah!' maka terjadilah)." Nah, apakah yang membuat hati dan langkah kita ragu, bila Allah, yang telah menciptakan bumi dan semesta, bahkan yang menciptakan kita, telah menyatakan firman-Nya tersebut? Kita tidak bisa meragukan, dan mengingkari, seperti kata-kata yang kita ucapkan setelah bercinta dengan Allah melalui lantuman ayat-ayat dalam Al Quran: "Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya!". Maha Benar!
Subscribe to:
Posts (Atom)







